Senin, 28 Mei 2018

Hormon Progesteron pada Reproduksi hewan ruminansia betina


Sinkronisasi estrus merupakan suatu cara untuk menimbulkan gejala birahi atau estrus secara bersama-sama, atau dalam selang waktu yang pendek dan dapat diramalkan  pada sekelompok hewan. Tujuan sinkronisasi birahi adalah untuk memanipulir proses reproduksi, sehingga hewan akan terinduksi birahi proses ovulasinya, dapat diinseminasi serentak dan dengan hasil fertilitas yang normal. Penggunaan teknik sinkronisasi birahi akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, disamping juga mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi buatan dan meningkatkan fertilitas kelompok (Sujarwo, 2009).

Dengan penyerentakan berahi dimaksudkan untuk pengendalian siklus etrus berahi sedemikian rupa sehingga periode estrus pada banyak hewan betina terjadi serentak pada hari yang sama atau dalam waktu 2 atau 3 hari. Sinkronisasi estrus mempunyai beberapa keuntungan praktis bagi peternak terutama dalam peternakan sapi potong yang diperlihara secara ekstensif di lapangan dan perkawinannya dilaksanakan melalui inseminasi buatan memakai bibit-bibit unggul yang diinginkan.  Disamping itu penggunaan teknik penyerentakan berahi pada peternakan-peternakan sapi perah, babi dan domba juga dapat memberi arti ekonomi yang tidak kecil. Konsentrasi periode berahi dalam 2 atau 3 hari akan menghemat tenaga kerja; memungkinkan inseminasi pada banyak hewan betina (terutama babi) dengan semen seekor pejantan unggul pada satu waktu tertentu, anak-anak yang lahir tidak perlu dipisahkan menurut kelompok-kelompok umur selama pertumbuhan dan penggemukan karena semuanya mempunyai umur yang hampir sama, waktu partus dan pemasaran dapat lebih dikonsentrasikan pada waktu tertentu sesuai dengan keinginan peternak dan disesuaikan pula dengan permintaan pasaran dan menurut pertimbangan-pertimbangan ekonomis. Dalam program pemisahan embrio, tehnik sinkronisasi estrus dapat dipakai menyerentakkan stadium siklus berahi antara  hewan pamberi (donor) dan hewan penerima (recipient). Supaya suatu program pengendalian siklus berahi dapat  berhasil maka suatu angka konsepsi yang tinggi harus dicapai pada ovulasi yang diserentakkan.


Penggunaan hormon Progesteron Dalam Deteksi Kebuntingan

Uji progesteron bertujuan untuk memeriksa kadar progesteron dalam tubuh ternak betina. Progesteron adalah salah satu hormon steroid yang dihasilkan tubuh ternak betina. Pada hewan betina hormon ini berfungsi antara lain pada siklus estrus, untuk menyiapkan uterus untuk implantasi sel telur yang telah dibuahi. Pada siklus estrus  normal, kadar progesteron dalam darah sebelum terjadi pelepasan sel telur < 5 ng/mL, kemudian setelah terjadi pelepasan sel telur akan meningkat > 5 ng/mL, terus meningkat sampai 6-10 hari, untuk kemudian menurun jika tidak terjadi  bunting .

Uji progesteron biasanya dilakukan untuk mengetahui apakah ada siklus menstruasi normal. Uji progesteron juga sering dilakukan untuk ternak yang diberi obat untuk merangsang pelepasan sel telur, untuk memantau keberhasilan terapi dan untuk mengetahui kapan pelepasan sel telur terjadi. Bagi peternak yang menginginkan informasi “kapan terjadi pelepasan sel telur” ini sangat penting. Uji progesteron juga dilakukan jika terjadi dugaan adanya kebuntingan di luar kandungan. Untuk ternak yang  tergolong resiko tinggi, uji ini kadang dilakukan untuk memantau perkembangan fetus dan plasentanya.

Uji kebuntingan  mendeteksi keberadaan beta-hCG (human Chorionic Gonadotropin), suatu hormon yang dihasilkan oleh embrio segera setelah terjadi konsepsi yang kemudian dilanjutkan oleh sel sinsitiotrofoblast (bagian dari plasenta). Keberadaan hormon hCG hampir selalu mengindikasikan terjadinya kebuntingan. Salah satu fungsi hormon ini adalah membantu menjaga keadaan uterus agar sesuai untuk kebuntingan, dengan antara lain merangsang pengeluaran hormon progesteron (Itulah kenapa, jika terjadi kebuntingan, hormon progesteron akan meningkat sesuai dengan umur kebuntingan, dan akan mencapai 100-200 ng/mL ketika kebuntingan akhir).

Peranan Hormon Progesteron Dalam sinkronisasi Birahi

Pemakaian progesteron dalam sinkronisasi estrus pertama kali dilapor oleh Ulberg, Christian dan Casida(1951) yang menyatakan bahwa apabila dimulai kira-kira 15 hari sesudah akhir estrus, penyuntikan 50 mg progesteron dalam minyak setiap hari atau 500 mg dalam bentuk “repositor” setiap 10 hari akan menghambat estrus dan ovulasi pada sapi. Estrus terjadi dalam waktu 4-6 hari, rata-rata 5,2 hari, sesudah penghentian penyuntikan. Menurut Trimberger dan Hansel (1955) penyuntikan progesteron 50-100 mg setiap hari dari hari ke 15 – hari ke 19 siklus birahi akan menyebabkan estrus normal pada 14 dari 25 sapi yang disuntik dalam waktu rata-rata 4,6 hari sesudah penghentian penyuntikan dan hanya 50 % yang mempunyai korpora lutea normal.

Suntikan-suntikan progesteron tidak selalu memberi respon yang seragam karena perbedaan-perbedaan individual dalam kadar penyerapan hormon tersebut, dan kadar penghambatan dan pemulihan kembali dari hambatan sesudah persediaan hormon didalam tubuh habis (Toelihere, 1979).

Progesteron merupakan blokterhadap pembebasan hormon gonadotropin, yang menyebabkan hewan tetap berada dalam keadaan anesterus karena tidak terjadi pertumbuhan folikel. Jika progesteron digunakan untuk penyerentakan berahi, dosisnya berayun antara 12.5 sampai 60 mg, dan disuntikkan secara intramuskuler tiap hari. Berahi akan muncul 3 sampai 6 hari setelah suntikan dihentikan. Hasilnya terjadi konsepsi 25 sampai 70% bila sapi yang berahi diinmseminasi.

Pemberian progesteron dengan menyelipkan spons yang mengandung progesteron ke dalam vagina selama 10 sampai 14 hari menghasilkan angka konsoopsi yang rendahbila hewan dikawinkan kepada periode berahi setelah spons ditarik keluar.

Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang bertujuan untuk mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi estrus umumnya menggunakan hormon prostaglandin F2a (PGF2a ) atau kombinasi hormon progesteron dengan PGF2a . Prosedur yang digunakan adalah :

1.      Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.

2. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari. Penyuntikan PGF2a pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal daripada donor.

Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi hormon gonadotropin, berahi biasanya lebih cepat yaitu 36 - 60 jam setelah penyuntikan PGF2a , sedangkan pada resipien berahi biasanya timbul 48 - 96 jam setelah penyuntikan PGF2a
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi.

Selain dengan penyuntikan, penggunaan hormone progesterone sebagi sinkronisasi siklus hormone juga dapat menggunakan alat yang menunjang diantara adalah

1. Progesteron releasing intravaginal Device (PRID)

Merupakan implant intra vaginal terbuat dari silicon dan berbentuk spral. Progesteron sintetik tersimpan di dalam implan tersebut dan akan dibebaskan secara pelanpelan lewat selaput lendir vagina. Pemasangan implan intravagina biasanya selama 15 hari, dan birahi akan timbul pada waktu 48-72 jam setelah pengambilan implan. Angka birahi yang ditimbulkan dapat mencapai 100%, namun angka konsepsi dari inseminasi pertama masih cukup rendah yaitu sekitar 45%. Beberapa sifat yang tidak disukai dari penggunaan PRID untuk sinkronisasi antara lain mudah lepas sebelum waktunya dan ada kecenderungan iritasi selaput lendir vagina sehingga mudah menyebabkan vaginitis.

2.      Controlled Internal Drug Releasing (CIDR)

Juga merupakan implant yang berbenuk huruf T dan terbuat dari silicon, yang nanti bentukan T tersebut akan dimasukkan ke dalm kornue uteri. Impaln ini diinsersikan selam 15 hari, dan biasanya menghasilkan angka konsepsi 58-66 %. Progesteron yang terkandung di dalamnya (1,9 gram) merupakan progesteron alam, sehingga mudah dideteksi dalam darah dan mempunyai waktu paruh yang sangat pendek, sifat ini adalah memberikan respon pembebasan gonadotrophin yang lebih nyata. Sifat lain yang disukai dari CIDR adalah dapat dipakai berulang-ulang, sampai 5 kali dengan fertilitas yang sama, karena kandungan progesteronnya yang tinggi (Sujarwo, 2009).

Induksi Ovulasi dengan Kombinasi Progesteron dengan Estrogen

Suatu kombinasi progesteron dan estrogen telah berhasil digunakan untuk induksi ovulasi pada sapi anestrus. Estrogen konyugat (5 mg estradiol valerat) mengikuti perlakuan progesteron selama 7 sampai 12 hari dalam bentuk implan telinga atau melalui spiral intravagina. Untuk memperbesar respon kombinasi estrogen dengan progesteron dapat dilakukan dengan penyuntikan 400-800 IU pada akhir perlakuan progesteron. Secara alamiah hormon estrogen dihasilkan oleh folikel yang masak, apabila hormon ini mencapai level maksimal, maka ternak menunjukkan gejala –gejala berahi. Estrogen bersifat feedback positif terhadap pusat preovulasi di hipotalamus (Hafez, et al., 2008).

Beberapa metoda perlakuan hormon dengan progesteron, estrogen dan kombinasi progesteron dengan estrogen telah berhasil mensinkronkan berahi, tetapi metode ini terlalu banyak menghabiskan waktu dan ketepatan waktu berahi serta tingkat fertilitas masih kurang memenuhi harapan penggunaannya.
Penerapan bioteknologi reproduksi yang sedang berkembang yaitu sinkronisasi ovulasi menjadi salah satu upaya lain dalam meningkatkan jumlah populasi sapi. Sinkronisasi ovulasi telah dilaksanakan dengan menggunakan perlakuan hormone GnRH, dalam merangsang terjadinya ovulasi dan penentuan waktu tepat Inseminasi Buatan (IB). Penelitian yang dilakukan Stevenson, et al., (2004), pada sapi perah yang diberikan perlakuan Heatsynch (sinkronisasi berahi) menunjukkan 89,21 % ovulasi dengan rata – rata waktu 37 – 76 jam